Text Size

Obat

Attention: open in a new window. PDFPrintE-mail

OBAT

Dalam keseharian hidup kita, kita sangat dekat dengan obat-obatan, apakah karena suatu sakit menahun yang diderita atau yang membantu meringankan rasa sakit saat kita sedang dalam keadaan tidak fit. Tidak jarang kita mengkonsumsi obat-obatan yang dijual bebas dan memilihnya hanya berdasarkan pengetahuan kita yang terbatas tentang obat. Akan lebih bijak jika kita sedikit mempelajari tentang obat yang kita konsumsi agar kita tidak salah dalam penggunaannya dan tidak merugikan diri kita sendiri.

Banyak aspek yang bisa kita bahas mengenai obat, tetapi yang paling bersinggungan dengan kita adalah antara lain :

1. Efek terapeutis dari obat

Tidak semua obat bersifat benar-benar meyembuhkan penyakit, banyak diantaranya yang hanya meniadakan atau meringankan gejalanya.Oleh karena itu, dapat dibedakan tiga jenis pengobatan antara lain:

- Terapi kausal : obat yang menghilangkan penyebab penyakit, khususnya pemusnahan kuman, virus dan parasit. Contoh : antibiotika, antimikroba, fungisida , obat-obat anti malaria.

- Terapi simtomatis : obat yang hanya meringankan dan menghilangkan gejala penyakit, tetapi yang lebih mendalam tidak dipengaruhi, misalnya kerusakan pada suatu organ atau saraf. Contoh : analgesic pada rematik atau sakit kepala, obat hipertensi dan obat jantung.

- Terapi subsitusi : oabat yang menggantikan zat yang lazimnya dibuat oleh organ yang sakit. Misalnya insulin pada diabetes, karena produksinya oleh pancreas kurang atau terhenti.

Efek obat pada tiap individu dapat berbeda-beda, setiap orang dapat memberikan respon yang berlainan terhadap suatu obat sesuai kepekaannya masing-masing. Perbedaan respon ini bisa besar sekali, karena untuk setiap obat selalu ada orang yang sangat rentan dan dengan dengan dosis yang rendah sekali telah memberikan efek terapeutis. Sebaliknya ada orang yang hanya memberikan respon hanya pada dosis yang sangat tinggi. Inilah sebabnya mengapa dosis obat yang diberikan pada suatu pasien dengan hasil baik, adakalanya tidak ampuh untuk pasien lain.

Kesetiaan Pasien (patient compliance), banyak penelitian menunjukkan bahwa sejumlah besar pasien tidak minum obatnya dengan taat dan teratur, atau tidak menghabiskan obat yang diberikan dokter. Dengan demikian jelaslah bahwa obat tidak akan memberikan efek yang optimal, bahkan dapat menimbulkan kekebalan, khususnya pada antibiotika. Kesetiaan dan kerelaan pasien untuk menelan obatnya dipengaruhi oleh beberapa factor dan yang utama adalah:

a. Sifat individual, misalnya watak, tingkat pendidikan dan tingkat kepekaan terhadap nyeri.

b. Relasi dokter-pasien, bila pasien tidak senang dengan perlakuan dokter atau tidak menerima perhatian dan informasi secukupnya mengenai penyakitnya, compliance akan menurun. Begitu pula jika dokter tidak memberikan instruksi yang lengkap atau cukup jelas tentang penggunaan obat. Misalnya antibiotik harus dihabiskan walaupun gejala penyakit sudah hilang.

c. Jenis penyakit, semakin berat penyakit, semakin baik compliancenya dan juga bila pasien merasakan nyeri. Sebaliknya pasien akan enggan meminum obat bila penyakit menahun dan sedangkan penyakitnya tidak menyebabkan nyeri yang nyata seperti diabetes dan hipertensi.

d. Jumlah obat dan frekuensi takarannya, semakin banyak kali pemberian obat maka akan semakin rendah kesediaan pasien untuk meminum obat. Bila obat diberikan lebih dari dua kali sehari compliance akan menurun drastic dan juga bila obat tidak dalam bentuk kapsul atau tablet melainkan dalam bentuk serbuk atau suspense akan menyebabkan pasien enggan meminumnya.

Industri farmasi juga telah memahami pentingnya persoalan ini, oleh karena itu telah dikembangkan tablet/ kapsul dengan efek panjang, delayed action atau slow/sustained release, yang cukup diminum satu atau maksimal dua kali sehari. Dewasa ini tersedia banyak obat dengan single dose dari bermacam-macam jenis, misalnya tablet atau kapsul dengan analgetika (voltaren regard) dan obat jantung (Isoptin). Keuntungan tambahan dari tablet kerja panjang ini adalah resopsi obat bisa berlangsung lebih teratur selama waktu yang lebih panjang dengan kadar darah yang kurang berfluktuasi. Dengan demikian efek klinis obat bisa lebih stabil dengan efek samping yang berkurang.

2. Plasebo

Suatu faktor penting yang turut menentukan efek terapetis adalah kepercayaan atas obat dan dokter. Berdasarkan kepercayaan ini pada situasi tertentu adakalanya diberikan suatu obat plasebo. Plasebo adalah sediaan obat tanpa kegiatan farmakologi (tablet, kapsul, cairan) dan khusus diberikan untuk menyenangkan dan menenangkan pasien yang menurut dokter tidak memiliki kelainan organis. Atau untuk meningkatkan moralnya, misalnya pada pasien yang menderita penyakit yang tidak dapat disembuhkan lagi. Pada asasnya plasebo adalah pengobatan dengan sugesti, yang sering kali menghasilkan efek mengagumkan meskipun bertahan hanya sementara saja.

 

3. Efek obat yang tidak diinginkan

a. Efek samping

Menurut WHO (1970) efek samping obat adalah segala sesuatu khasiat yang tidak diinginkan untuk tujuan terapi yang dimaksudkan pada dosis yang dianjurkan. Di banyak Negara didirikan pusat-pusat pengamatan yang memantau efek samping obat yang baru jika ternyata memiliki efek samping yang berbahaya. Kerja utama dan efek samaping obat sebenarnya adalah pengertian yang tidak mutlak, karena terkadang efek samping obat bisa menjadi hal yang diharapkan pada terapi lainnya, seperti minoksidil yang merupakan obat hipertensi ternyata memiliki efek penumbuh rambut yang kemudian diluncurkan sebagai obat penumbuh rambut Regaine

b. Idiosikrasi

Idiosinkrasi adalah peristiwa, dimana obat memberikan efek yang secara kualitatif normal berlainan dengan efek normalnya. Umumnya hal ini disebabkan oleh kelainan genetis pada pasien yang bersangkutan. Contohnya anemia aplatis yang jarang terjadi pada penggunaan kloramphenikol.

c. Alergi

gejala alergi yang terpenting dan sering tampak pada kulit adalah urtikaria (gatal dan bentol-bentol) serta rash (kemerahan). Adakalanya sifatnya lebih hebat seperti demam, serangan asma, anaphilaktik syok yang sering kali fatal (kloramphenikol). Berlainan dengan efek toksis, alergi pada umumnya sudah timbulkan oleh dosis yang sangat kecil dan tidak dapat diturunkan dengan mengurangi dosisnya. Pada kebanyakan kasus alergi dapat diselesaikan dengan injeksi adrenalin, antihistamin atau kortikosteroid.

d. Fotosensitasi

Fotosensitasi adalah sensitifitas berlebihan untuk cahaya akibat penggunaan obat, terutama secara lokal. Yang terkenal adalah antiseptikum bithionol dalam sabun bris), yang karena efek ini dilarang penggunaannya dalam sediaan topical, antara lain di AS dan Kanada sejak 1973. Begitu juga minosiklin dan turunannya kadang-kadang menyebabkan fotosensitasi pada pemakaian oral. Guna menghindarkan alergi kontak, dianjurkan agar tidak menggunakan secara lokal allergen-alergen kontak terkenal sepert lima A ( antibiotik, antiseptika, anastetika lokal, antimikotika, antihistamin).

 

4. Efek toksis

Setiap obat dalam dosis yang cukup tinggi dapat mengakibatkan efek toksis. Pada umumnya, hebatnya reaksi toksis berhubungan langsung dengan tingginya dosis, bila dosis diturunkan, efek toksis dapat dikurangi pula.

 

5. Waktu minum obat

Bagi kebanyakan obat waktu minum obat tidak begitu penting, yaitu sebelum makan atau sesudah makan. Tetapi, ada beberapa obat dengan sifat dan tujuan pengobatan khusus, yang hendaknya diminum pada waktu tertentu untuk mencapai efek optimal atau untuk menghindari efek samping tertentu.

Obat adalah suatu senyawa kimia yang memiliki aneka sifat dan efek. Ketika obat diminum, tentu akan melewati lambung dan masuk ke dalam usus. Sebagian kecil obat diserap di lambung, dan sebagian besar adalah di usus halus yang permukaannya sangat luas. Pada dasarnya obat-obat dapat diserap dengan baik dan cepat jika tidak ada gangguan di lambung maupun usus, misalnya berupa makanan. Obat dapat berinteraksi dengan makanan. Uniknya, ada obat-obat yang penyerapannya terganggu dengan adanya makanan, ada yang justru terbantu dengan adanya makanan, dan ada yang tidak terpengaruh dengan ada/tidaknya makanan. Hal ini akan menentukan kapan sebaiknya obat diminum, sebelum atau sesudah makan.

Obat diminum sebelum makan, telah dikemukakan diatas bahwa resopsi obat dari lambung yang kosong berlangsung paling cepat, karena tidak dihalangi oleh isinya. Maka obat yang bertujuan memberikan efek cepat sebaiknya diminum sebelum makan, yaitu saat lambung kosong, misalnya analgetika (kecuali asetosal dan NSAIDs). dari lambung yang kosong berlangsung paling cepat, karena tidak dihalangi oleh isinya. Maka obat yang bertujuan memberikan efek cepat sebaiknya diminum sebelum makan, yaitu saat lambung kosong, misalnya analgetika (kecuali asetosal dan NSAIDs). dari lambung yang kosong berlangsung paling cepat, karena tidak dihalangi oleh isinya. Maka obat yang bertujuan memberikan efek cepat sebaiknya diminum sebelum makan, yaitu saat lambung kosong, misalnya analgetika (kecuali asetosal dan NSAIDs).

Obat diminum sesudah makan

Selain interaksi obat dengan makanan, yang berpengaruh pada waktu minum obat sebelum atau sesudah makan, waktu terbaik untuk minum obat juga tergantung pada jenis obatnya. Di bawah ini adalah waktu minum obat berdasarkan golongan penggunaannya.

1. Obat diabetes dan penguat jantung

Waktu yang terbaik adalah pukul 4:00 – 5:00 pagi.  Tubuh manusia paling sensitif terhadap insulin pada pukul 4-5 pagi, sehingga jika diberikan pada saat itu, efeknya paling baik, walaupun dalam dosis lebih kecil. Efek obat penguat jantung juga lebih tinggi sampai 10-20 kali pada jam tersebut dibandingkan waktu-waktu yang lain. Hal ini karena tubuh manusia juga paling sensitif terhadap digitalis. Ini secara teoritis, mungkin pada prakteknya bisa sedikit bergeser waktunya, misalnya pukul 6 pagi.

2. Obat diuretik (pelancar air seni)

Paling baik digunakan pada pukul 7 pagi. Sangat penting untuk menggunakan obat pelancar seni pada waktu yang tepat karena itu terkait dengan fungsi ginjal dan hemodinamik. Selain itu juga pada umumnya pasien dalam keadaan terjaga, sehingga tidak mengganggu waktu tidur. Obat seperti hidroklortiazid memiliki efek samping yang lebih rendah jika dipakai pada pukul 7 pagi.

3. Penurun tekanan darah (anti hipertensi)

Waktu yang paling baik adalah pada pukul 9-11 pagi. Riset menunjukkan bahwa tekanan darah mencapai angka paling tinggi pada pukul 9-11 pagi, dan paling rendah pada malam hari setelah tidur. Sehingga secara umum, sebaiknya obat antihipertensi diminum pada pagi hari. Perlu hati-hati jika obat anti hipertensi diminum malam hari karena mungkin terjadi penurunan tekanan darah yang berlebihan pada saat tidur.

4. Anti asma

Waktu yang terbaik adalah pada pukul 3-4 sore. Hal ini karena pada saat itu produksi steroid tubuh berkurang, dan mungkin akan menyebabkan serangan asma pada malam hari. Karena itu, jika steroid dihirup sore hari, diharapkan akan mencegah serangan asma pada malamnya.

5. Anti anemia

Waktu yang paling baik adalah pukul 8 malam. Penggunaan obat anemia seperti Fe glukonat atau Fe sulfat, dll memberikan efek 3-4 kali lebih baik pada waktu itu daripada jika diberikan pada siang hari.

6. Obat penurun kolesterol

Waktu yang paling baik adalah pada pukul 7-9 malam, karena memberikan efek lebih baik.

Namun sekali lagi, paparan di atas adalah panduan umum waktu minum obat. Jika sudah ada aturan pakai dari Apotek, maka gunakan sesuai waktu yang dianjurkan.

Sumber :

Obat-obat penting : drs. Tan Hoan Tjay dan drs. Kirana Rahardja, edisi 6: 2010

Physer.com

 

 

Adverstisement

Login Form