Apa Itu Halitosis - Feature Image - Dental Universe Indonesia

Apa Itu Halitosis?

Apa itu halitosis? Halitosis atau bau mulut merupakan kondisi yang umum dijumpai dalam masyarakat dan faktor lokal yang berperan dalam timbulnya halitosis adalah adanya penyakit gingiva dan periodontal. Metodeterapi halitosis biasanya bertujuan untuk menghilangkan faktor lokal tersebut, dapat berupa mekanis (penyikatan gigi dan lidah), kimiawi (permen karet dan obat kumur) dan kontrol diet.

Penyebab utama halitosis bersumber dari rongga mulut, khususnya dari bagian belakang lidah. Halitosis disebabkan oleh berbagai faktor, diantaranya adalah makanan/minuman, kebersihan gigi yang buruk, penyakit periodontal, mulut kering (xerostomia), penyakit sistemik, merokok, dan bakteri yang terdapat pada rongga mulut.

Untuk mengatasi halitosis intraoral, dapat dilakukan kontrol terhadap kebersihan mulut, kesehatan jaringan lunak dan keras mulut. Upaya untuk menghilangkan faktor lokal dapat dilakukan secara:

  • Mekanis dengan cara penyikatan lidah dan gigi

Pembersihan gigi dan mulut secara mekanis bertujuan untuk mengurangi jumlah mikroba patogendari biofilm dan tongue coating sehingga pembentukan karies bisa dihambat. Dari sanalah kadar halitosis menjadi rendah dan resiko penyakit sistemik dapat berkurang.

  • Kimiawi melalui penggunaan obat kumur, pasta gigi, permen karet dan sistemik kontrol diet ataupun terapi biologis dengan menggunakan probiotik.

Apa itu halitosis? Penggunaan obat kumur juga memberikan hasil yang baik terhadap timbulnya halitosis.

apa itu halitosis - obat kumur - dental universe indonesia

apa itu halitosis – obat kumur – dental universe indonesia

Makanan dan obat-obatan tertentu, kebiasaan merokok, malas menggosok gigi, kondisi medis tertentu (seperti penyakit gusi, mulut kering, pneumonia, bronkitis, sinusitis kronis, diabetes, asam lambung kronis, hingga masalah hati dan ginjal) dapat menjadi pemicu masalah bau mulut. Apa itu halitosis?

Ternyata ada beberapa perawatan sederhana yang bisa dilakukan di rumah untuk mencegah timbulnya bau mulut:

  • Rutin menyikat gigi dua kali sehari atau setiap setelah makan dengan menggunakan pasta gigi yang mengandung fluoride. Jangan lupa untuk menyikat lidah dengan sikat khusus lidah.
  • Hindari kondisi mulut kering dengan meminum banyak cairan seperti air putih atau jus buah. Hindari mengonsumsi minuman mengandung kafein, minuman ringan, ataupun minuman beralkohol karena akan membuat mulut semakin kering. Ganti kebiasaan merokok dengan mengunyah permen hisap ataupun permen karet, terutama yang tidak mengandung gula.
  • Hindari makanan yang dapat menyebabkan bau mulut seperti bawang merah, bawang putih, serta makanan yang banyak mengandung gula.
  • Hindari menyikat gigi minimal 30 menit setelah minum minuman asam atau mengonsumsi buah yang asam. Hal tersebut untuk mencegah terjadinya abrasi gigi.

Demikian penjelasan tentang apa itu halitosis atau bau mulut. Semoga bermanfaat. Jangan lupa untuk konsultasi kesehatan gigi di Dental Universe Indonesia ya!

Untuk informasi lebih detail, silakan Whatsapp kami (klik link di bawah ini):

Reference:

Shinada K, Ueno M, Konishi C, Takehara S, Yokoyama S, Kawaguchi Y. (2008). A randomized double blind crossover placebo-controlled clinical trial to assess the effects of a mouthwash containing chlorine dioxide on oral malodor. Trials, 9 : 71.

Annemiek M.W.T. van den Broek, LouwFeenstra, Cees de Baat. (2007). A review of the current literature on aetiology and measurement methods of halitosis. Journal of Dentistry, 35:27-635.

Charles, C.H., Cronin, M.J., Conforti, N.J., Dembling WJ, Petrone DM, Mcguire JA. (2001). Anticalculus efficacy of an antiseptic mouthrinse containing zinc chloride. JADA, 132:94-98.

Teles, R.P. and Teles, F.R.F. (2009). Antimicrobial agents used in the control of periodontal biofilms: effective adjuncts to mechanical plaque control? Braz Oral Res, 3:39-48.

Amini, P. , Araujo, M.W.B., Wu, M., Charles, C.A., Sharma, N.C. (2009) Comparative antiplaque and antigingivitis efficacy of three antiseptic mouthrinses: a two week randomized clinical trial. Braz Oral Res, 23:319-25.

Saad, S., Greenman, J., Shaw, H. (2010). Comparative effects of various commercially available mouth-rinse formulations on oral malodour. Oral Diseases, 17:180.

Charles, C.H., Sharma, N.C, Galustians, H.J., Qaqish, J., Mc Guire, J.A., Vincent, J.W.. (2001). Comparative efficacy of an antiseptic mouthrinse and an antiplaque/antigingivitisdentifriceA six-month clinical trial. JADA, 132: 670-675.

Kocak, M.M., Ozcan, S., Kocak, S., Topuz, O., Erten, H. (2009). Comparison of the Efficacy of Three Different Mouthrinse Solutions in Decreasing the Level of StreptococcusMutansin Saliva. Eur J Dent, 3:57-61.

Kazor, C.E., Mitchell, P.M., Lee, A.M., Stokes, L.N., Loesche, W.J., Dewhirst, F.E., Paster, B.J. (2003). Diversity of Bacterial Populations on The Tongue Dorsa of Patients With Halitosis And Healthy Patients. Journal of Clinical Microbiology, 41:558–563.

Fine, D.H., Furgang, D., Markowitz, K., Sreenivasan, P.K., Klimpel, K., Vizio, W. (2006). The antimicrobial effect of a triclosan/copolymer dentifrice on oral microorganisms in vivo. JADA, 137(10):1406-13.

Retrieved from : https://www.alodokter.com/pilihan-obat-bau-mulut-yang-ampuh-dan-aman

❤beach ❤tanned ❤traveling ❤dentist ❤Student(MBA,MHM)